Logo SantriDigital

Menjaga kerukuran antar tetangga

Khutbah Jumat
R
Rahmat Fauzi
6 Mei 2026 4 menit baca 2 views

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ...

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Marilah kita renungkan sejenak, di hadapan Kebesaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, betapa dekatnya kita dengan tetangga-tetangga kita. Mereka adalah orang-orang yang setiap hari kita temui, yang rumahnya berada di sebelah, di depan, di belakang, atau di samping rumah kita. Mereka adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita di dunia yang fana ini. Namun, seringkali kita lupa. Kita terlalu sibuk dengan urusan duniawi yang sementara, sehingga abai pada hak-hak dan kewajiban kita sebagai sesama penghuni lingkungan. Bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan kita dengan sabdanya yang mulia: "مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ" (Muttafaq 'alaih) "Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga akan diberi hak waris." Renungkanlah, betapa agung kedudukan tetangga di dalam pandangan Islam. Hingga seorang malaikat utusan Allah pun terus-menerus mengingatkan kekasih-Nya, Rasulullah, akan pentingnya menjaga hubungan baik dengan mereka. Ini bukan sekadar nasihat biasa, ini adalah perintah ilahi yang disampaikan melalui perantara wahyu. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Menjaga kerukunan antar tetangga bukanlah sekadar perbuatan baik yang sifatnya sukarela, melainkan sebuah kewajiban yang memiliki konsekuensi dunia dan akhirat. Ingatlah, ketika seseorang berbuat baik kepada tetangganya tanpa pamrih, Allah Ta'ala akan mencatatnya sebagai amal saleh yang berharga. Keharmonisan dalam bertetangga adalah cerminan dari keimanan seseorang. Bukankah Allah berfirman: "وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَبِالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا" (An-Nisa: 36) "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat dan ibnu sabil dan budak-budakmu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." Lihatlah, betapa jelas ayat ini mengaitkan hak tetangga dengan hak Allah dan hak keluarga. Ini menunjukkan betapa sentralnya peran tetangga dalam tatanan masyarakat beriman. Tetangga yang dekat, apalagi tetangga yang masih memiliki hubungan kerabat, memiliki kedudukan yang lebih utama. Namun, bahkan tetangga yang jauh pun berhak mendapatkan perhatian dan perlakuan baik dari kita. Terlebih lagi, kalimat "الصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ" yang seringkali diartikan sebagai teman yang duduk di sampingmu, bisa juga merujuk pada tetangga kita. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Pernahkah kita tergoda untuk berbuat buruk kepada tetangga? Pernahkah kita merasa kesal karena sesuatu yang mungkin kecil di mata Allah tapi terasa besar di hati kita? Mari kita ingat, ada ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang menyakiti tetangganya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ, وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ, وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ". قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: "الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ" (Muttafaq 'alaih) "Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman!" Para sahabat bertanya, "Siapa wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya." Betapa pedihnya ancaman ini. Tiga kali Rasulullah menegaskan tentang keimanan seseorang yang tidak aman tetangganya dari keburukan perilakunya. Ini adalah tamparan keras bagi kita. Apakah mungkin kita mengaku beriman, namun tetangga kita hidup dalam kecemasan dan ketakutan akibat ulah kita? Apakah mungkin hati kita merasakan manisnya iman, sementara kita tegar menyakiti atau mengabaikan mereka yang hidup berdampingan dengan kita? Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau cintai. Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah, Mari kita buka lembaran baru. Mari kita tinggalkan segala prasangka buruk, segala perselisihan yang menyelimuti hati kita terhadap tetangga. Hadirkanlah rasa cinta, kehangatan, dan kepedulian. Ulurkan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan, tegur mereka dengan lembut jika mereka berbuat salah, dan doakanlah kebaikan bagi mereka. Ingatlah bahwa kebaikan sekecil apapun akan berbalas kebaikan yang lebih besar dari Allah Ta'ala. Termasuk dalam hal ini adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, seperti suara bising yang berlebihan, sampah yang berserakan, atau melanggar batas kepemilikan mereka. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ" (Muttafaq 'alaih) "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya." Ya Allah, betapa indah Islam ini, yang mengajarkan kita untuk menjadi insan yang harmonis, yang dicintai sesama dan dicintai oleh-Mu. Sungguh, kebahagiaan dunia akhirat hanya akan kita raih dengan senantiasa menjaga hubungan baik dengan seluruh makhluk, terutama tetangga kita. Biarkanlah tetangga kita merasakan kedamaian berkat kehadiran kita, bukan ketakutan dan kegelisahan. Jadikanlah rumah kita sebagai tempat yang memancarkan rahmat dan kasih sayang, bukan sumber bencana dan permusuhan. Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing hati kita untuk menjadi tetangga yang baik, yang senantiasa menjaga amanah dan hak-hak tetangga kita. Marilah kita berdoa, memohon ampunan dan rahmat dari-Nya, agar kita mampu memperbaiki diri, dan menjadikan lingkungan kita sebagai surga dunia yang mencerminkan surga Jannah-Nya kelak. Blesse my people, O Allah, with the Quran, make it a guide and a light, and with the remembrance of the Most Merciful, and the grace of the Most Merciful. And grant us its success, and grant us its recitation in the darkest of the night and at the ends of the day, and make it a guide for us to all good. أَقُولُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Bagikan artikel ini

Artikel Lainnya

Lihat semua →